selamat tinggal sayang ...
kenang aku sebagai tahun yang membuatmu lebih berani
tahun yang mengisahkan tentang kepahitan
tahun yang akan membuatmu tersenyum saat mengingatnya
ah .. tersenyum kataku
tapi itu harapku ...
bila tahun ini aku tak mampu menjaga air matamu
mungkin saja pernah ku sumbangkan senyuman
untuk kau simpan saat kau lupa tersenyum
last desember 2014
semua mempunyai intonasi dan vibrasi yang berbeda, sayang bila dengan mudah kita lewatkan tanpa menyimpannya pada aksara MARI BERMAIN DENGAN KATA
Label
- rangkaikata
- MOTIVASI
- VOKALISASI
- QuotesBook
- RENUNGAN
- WEB
- TIPSingkat
- Journal
- Bisnis
- ke®EIaktifan
Tampilkan postingan dengan label rangkaikata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rangkaikata. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Desember 2014
Minggu, 28 Desember 2014
Sajak Ainun
Pekat itu menjelma kembali merajai celah aula hati
dentingan irama resah menggantungkan tanya yang terseok
tanpa jawab pasti
masih adakah kata mesti di dunia ini?
hingga ku lupa hakikat pasti
malam ini...
masih tentang hati
ku merenungi artefak janji
dan sekali lagi tak ku pahami
angin berhembus, bintang berkelip
pagi ini dan sehelai luka
menyabet hatiku dengan belati yang nyata
sebelum hatiku pulih
pedang itu menikam kembali
Rahman ...
ini hambamu ...
yang terus meratap hal ganjil yang pada semestinya tak perlu
nmun senyum dan tawa itu
menjelma menjadi pecut api
yang mencambuk celah-celah jantung
luka itu menjalar
melebar oleh perputaran waktu
atas rotasi yang mengikit erat
pagi ini.... masih bertema pedih
ku basuh jiwaku yang berlumur duka
mengubur segalanya di lubuk hati
semoga ...
ternyata ...
saat sang surya terbit
pagi tadi
ada kepakan yang menaungi celah
celah pekat, kemarin malam
menyulut pelita
dalam kencang terpaan angin barat
barusan ku dengar dahan berderit
"kau tak sendiri"
lamongan 170612
ainoen's poem
dentingan irama resah menggantungkan tanya yang terseok
tanpa jawab pasti
masih adakah kata mesti di dunia ini?
hingga ku lupa hakikat pasti
malam ini...
masih tentang hati
ku merenungi artefak janji
dan sekali lagi tak ku pahami
angin berhembus, bintang berkelip
pagi ini dan sehelai luka
menyabet hatiku dengan belati yang nyata
sebelum hatiku pulih
pedang itu menikam kembali
Rahman ...
ini hambamu ...
yang terus meratap hal ganjil yang pada semestinya tak perlu
nmun senyum dan tawa itu
menjelma menjadi pecut api
yang mencambuk celah-celah jantung
luka itu menjalar
melebar oleh perputaran waktu
atas rotasi yang mengikit erat
pagi ini.... masih bertema pedih
ku basuh jiwaku yang berlumur duka
mengubur segalanya di lubuk hati
semoga ...
ternyata ...
saat sang surya terbit
pagi tadi
ada kepakan yang menaungi celah
celah pekat, kemarin malam
menyulut pelita
dalam kencang terpaan angin barat
barusan ku dengar dahan berderit
"kau tak sendiri"
lamongan 170612
ainoen's poem
Muak Rindu
kau bilang muak dengan rindu
lalu kenapa kau masih merinduku
lalu kau jawab dengan sesukamu
karena merindumu membuatku tak muak dengan rindu
Hening.....
sepertinya kali ini aku yang muak
kotakosong
lalu kenapa kau masih merinduku
lalu kau jawab dengan sesukamu
karena merindumu membuatku tak muak dengan rindu
Hening.....
sepertinya kali ini aku yang muak
kotakosong
luka dan kopi
ajari aku caranya menghirup luka
lalu menikmati setiap detik yg terasa
katamu seperti menegak sekecup kopi pahit
nikmat tiada akhir ...
hanya sekejap pahit terasa
lalu menghilang dengan harumnya kopi
angkringan 28/12/14
Do'a musim dingin
aku berlindung Tuhan dari jahatnya musim dingin
yang mampu membekukan cinta ini
lalu retak berkeping-keping
aku berlindung Tuhan dari amuknya badai angin
yang mampu menerbangkan rindu ini tanpa arah
tak menentu tanpa peta
aku berlindung Tuhan dari licinnya musim hujan
yang mampu menggelincirkanku
terperosok lubang yg gelap
dan aku tetap berlindung Tuhan
dari apapun yang mampu menghancurkan
segala yang tercipta
amiin
djogjakarta 28/12/14
Bukan Kereta
Rindu itu bukan seperti kereta
yang mampu di rencanakan
kapan datang dan pergi
djogjakarta 28/12/14
yang mampu di rencanakan
kapan datang dan pergi
djogjakarta 28/12/14
Rindu Tak pernah Reda
Rinduku tak pernah reda
selalu ada yang bergemuruh
dan meneteskan rindu itu sederas-derasnya
djogjakarta 28/12/14
-arai-
selalu ada yang bergemuruh
dan meneteskan rindu itu sederas-derasnya
djogjakarta 28/12/14
-arai-
Rabu, 17 Desember 2014
Sajak-Sajak 1987 ZABIDI YAKUB
Sajak-Sajak 1987
andai sejuta kabut itu
tirai cakrawala Langit-Mu
adalah kepastian gugusan mega
untuk nanti pecah jadi hujan
di pelataran tanah merah-Mu
niscaya tanga-tangan segera tengadaah
berebut panjatkan syukur
betapa lelah menanti anugerah
betapa sendu wajah menunggu
hasrat menggapai gugusan mega itu
jangan hanya terbentang di Langit-Mu
tercurahlah, luruhlah di bumi pijakan
tapi kabut-kabut itu
hanya menampak di angan harapan
Cakrawala-Mu begitu cerah
Udara Bumi-Mu begitu gerah
hasrat yang semula membara
malah terbakar lunglai
yang tinggal hanya mata menatap nanar
dan batin begitu kelu, rasa begitu sansai
Batu, Malang, Tahun Baru 1987
Kelabu
jemari lentik siapa
yang coba mengusik perhatian angin
mengajak singgah di beranda kelam
menyimak nada-nada falsetto
denting gitar yang tak pas setelannya
alangkah sendu itu lagu
tertegun aku dibuainya
hati siapa
yang tak gundah gulana
bila kekasih dicinta tak apel padanya
menghadirkan ceria lewat canda tawa
di malam Minggu sebagaimana biasanya
apa gerangan sebab, tanya pun berkelindan
hati siapa
yang tak berbunga-bunga
sejak sore mematut diri di depan kaca
merias wajah agar tampak rupawan
ketika nyatanya tak sia-sia ia ber-make-up
kekasih yang ditunggu hadir di muka pintu
hati siapa
yang tak begitu bahagia
duduk berbincang di sudut ruang
atau bersilang jemari jalan bergandengan
sepanjang koridor plaza menuju bioskop
nonton film dengan cerita percintaan semusim
sedang di kamar yang terkunci ini
hatiku kelabu dicekam rindu
rundung tanya menohok, menuding-tuding
mengapa kekasih tak datang apel padaku
jemukah dia akan rasa cinta
tercelakah diri ini, membuat daya tariknya
menipis
atau ada sikapku yang membuat hatinya tersakiti
oh, kekasih hati
jangan kau buat aku terpenjara dalam prasangka
dan hanya bisa meraba-raba perasaanmu
andai ada salahku yang begitu menyakitkan
hanya maafmu, penegas bahwa kau cinta aku
bila tak dengan kata-kata, isyarat cukup bagiku
perlihatkanlah isyarat itu lewat binar matamu
dan tentang aku, tak usah kau ragu
untukmu jua kusandarkan cinta
Malang, Sabtu larut malam, 4 April 1987
Serenada
Malam
ketika senja mulai jatuh
kekhawatiranku kembali mekar
teja merah pergi sambil terbahak
setelah aku gagal cekali pelangi
temarampun tak berhasil kubujuk
untuk tinggal lebih lama lagi
menemaniku menghadang angin
semua bergegas menuju ufuknya
yang telah janjikan gending malam
tembang pangkur mengalun merdu
aku tinggal dipeluk resah
menunggu datangnya angin malam
untuk kuhadang lalu kucumbu
dalam gelap kamarku yang kecil
setelah neon duapuluh watt kumatikan
antara tembok kelam
dan detak jam yang begitu pelan
kugayutkan nyanyian, serenada malam
yang tak karuan reffreinnya
mengulang-ulang sepenggal bait
silih berganti, namun tak selesai utuh
sekian lagu, sekian irama
telah menguap dari celah bibirku
sekian ratus kata, sekian ribu aksara
kumuntahkan sampai aku lelah
aku lelah, akupun tertidur
aku mimpi, aku mengigau
kuhisap kata, kuhirup aksara
kujilat liur yang basahi bantal
aku terbangun, aku tersadar
kucoba mengingat-ingat apa yang telah kualami
angin malam yang mestinya kuhadang
ternyata telah lama lewat sambil tertawa
sempat singgah, menelanjangiku
kini telah pergi seiring datangnya pagi
aku hanya terkesima, penuh kecewa
aku menanggung aib yang ditinggalkannya
Jalan Candi Badut, Malang, Medio April 1987
coba kau geraikan rambutmu, kasih
kan kuusapkan jemariku membelainya
agar aku dapat nikmati wanginya
coba kau rebah di pangkuanku, kasih
biar kusibak rambut yang luruh di dahimu
agar aku dapat mengelus keningmu
coba kau pandangi aku, kasih
agar dapat kutangkap dan kunikmati
sinar kasih yang memancar di matamu
coba kau rekahkan bibirmu, kasih
biar aku kecup dengan lembut
kita rasakan bersama manisnya cinta
kita nikmati bersama lezatnya cinta
Malang, Mei 1987
kutelusuri lorong hatimu
tingkapnya terkunci rapat sekali
kulihat ada luka menganga
buah dari putus cinta:
kau kini nampak begitu mawas diri
kutelusuri lorong hatimu
tingkapnya terbuka, menanti cinta
rupanya kau tak betah bersepi diri
tapi kenapa kau ragukan ketulusanku
ketika kupersembahkan sekuntum bunga
kutelusuri lorong hatimu
di tingkapnya yang terbuka lebar
kulihat dua asmara bertaut mesra
rupanya telah kau temukan kini
kekasih cendera mata idaman hati
kutelusuri lorong hatimu
kenapa tingkapnya kembali terkunci
rupanya sebuah kenyataan buka suara
ketika cintanya kau terima untuk bersemi
masih juga belum dapat tumbuh abadi
jadinya lukamu pun terkuak kembali
kutelusuri lorong hatimu
lukamu membuat jiwamu goncang
buah cinta yang belum matang
semakin membuatmu bimbang
antara berupaya mencoba mengkaji lagi
atau hanyut dalam kesendirian saja
mengungkung diri dalam bingkai hari
mengisi lembar-lembar sepi
yang terkoyak dari rangkaian waktu
dengan catatan duka dan dendam
yang membara dalam sekam hatimu
kutelusuri lorong hatimu
tidakkah telingamu tuli, matamu buta
andai kau tahu arti keseimbangan hidup
tentu jiwamu akan tetap tenang
andai kau tahu cara memetik hikmahnya
tentu sikapmu akan lebih dewasa
setiap keputusan mengandung kemungkinan
tepat memutuskan, kemungkinannya bagus
keputusan salah, risiko menanti di ujung
bagaimana agar lempang jalan dititi
harus dikaji secara teliti kemungkinan terbaik
tidak pula tepat berpasrah: ”bagaimana nanti”
dengan menghibur diri: ”yang penting dijalani”
Sajak Dulu Kala
Sajak Dulu Kala
oleh : Bayu Adjie Nugroho
oleh sabda-sabda dan getaran Yang Mengaku Maha Kuasa
merasa mampu dan mengajukan diri sebagai Dzat Yang Maha Tunggal
bersama lentera dhawuh-dhawuh para murad
menembus hingga ke relung hati terdalam
membekas dan mengendap bertahun-tahun
rasa suka dan bahagia yang lama dibakar perih
melalui jalan itu, jalan para Murabbi mencapai Rabbinya
aku merangkak, kadang tengkurap, kadang pingsan, dan bosan
dengan lidah yang tetap berusaha istiqamah
menyebut Dia!
Yang Mengaku Tuhanku
bersama Dia!
Yang mengaku satu-satunya sahabatku
untuk Dia!
Yang mengaku hanya disisiNya jalan keluar berada
aku sudah pasrah, lemah dan tak berdaya
untuk sekedar kembali dan mengulang perjalanan
atau mencari Tuhan-Tuhan yang mau menaungiku
entah ini sudah diujung jalan, pertengahan, atau permulaan,
yang jelas biarkanlah, biarkanlah aku mati dalam keadaan tenang
kepada agama yang disebut-sebut dengan Islam
biarkanlah…
kumohon…
di warnet Jamiyyah Islamiyyah, 07/11/13/ 11:04 Kingdom of Saudi Arabia(KSA)
oleh sabda-sabda dan getaran Yang Mengaku Maha Kuasa
merasa mampu dan mengajukan diri sebagai Dzat Yang Maha Tunggal
bersama lentera dhawuh-dhawuh para murad
menembus hingga ke relung hati terdalam
membekas dan mengendap bertahun-tahun
rasa suka dan bahagia yang lama dibakar perih
melalui jalan itu, jalan para Murabbi mencapai Rabbinya
aku merangkak, kadang tengkurap, kadang pingsan, dan bosan
dengan lidah yang tetap berusaha istiqamah
menyebut Dia!
Yang Mengaku Tuhanku
bersama Dia!
Yang mengaku satu-satunya sahabatku
untuk Dia!
Yang mengaku hanya disisiNya jalan keluar berada
aku sudah pasrah, lemah dan tak berdaya
untuk sekedar kembali dan mengulang perjalanan
atau mencari Tuhan-Tuhan yang mau menaungiku
entah ini sudah diujung jalan, pertengahan, atau permulaan,
yang jelas biarkanlah, biarkanlah aku mati dalam keadaan tenang
kepada agama yang disebut-sebut dengan Islam
biarkanlah…
kumohon…
di warnet Jamiyyah Islamiyyah, 07/11/13/ 11:04 Kingdom of Saudi Arabia(KSA)
Sabtu, 13 Desember 2014
SAJAK CHAIRUL ANWAR
NISAN
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Oktober 1942
PENGHIDUPAN
Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Desember 1942
1943
TAK SEPADAN
Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
Februari 1943
SIA-SIA *
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
*Versi Deru Campur Debu (Editor)
SIA-SIA*
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Februari 1943
*Versi KT (Editor)
AJAKAN*
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943
*Versi NA
SENDIRI
Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
Februari 1943
PELARIAN
I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga
Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “
Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
Februari 1943
NISAN
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Oktober 1942
PENGHIDUPAN
Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Desember 1942
1943
TAK SEPADAN
Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
Februari 1943
SIA-SIA *
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
*Versi Deru Campur Debu (Editor)
SIA-SIA*
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Februari 1943
*Versi KT (Editor)
AJAKAN*
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943
*Versi NA
SENDIRI
Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
Februari 1943
PELARIAN
I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga
Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “
Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
Februari 1943
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Oktober 1942
PENGHIDUPAN
Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Desember 1942
1943
TAK SEPADAN
Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
Februari 1943
SIA-SIA *
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
*Versi Deru Campur Debu (Editor)
SIA-SIA*
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Februari 1943
*Versi KT (Editor)
AJAKAN*
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943
*Versi NA
SENDIRI
Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
Februari 1943
PELARIAN
I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga
Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “
Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
Februari 1943
NISAN
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Oktober 1942
PENGHIDUPAN
Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Desember 1942
1943
TAK SEPADAN
Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
Februari 1943
SIA-SIA *
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
*Versi Deru Campur Debu (Editor)
SIA-SIA*
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Februari 1943
*Versi KT (Editor)
AJAKAN*
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943
*Versi NA
SENDIRI
Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
Februari 1943
PELARIAN
I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga
Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “
Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
Februari 1943
THE LAST DATE WITH THE MOON
THE LAST DATE WITH THE MOON
By Mych Ryan
Here I am, standing in the brink of the day
Staring at the sun that has gone away
And a smile upon your face,
Make me never wanna leave this place
There you are, hardly I can see cause you just so far
I see your eyes blinking, are you a star?
But I remember you said you’re a moon
So I should have seen you soon
And here we are now,
You come to me somehow
You are getting closer and closer,
But why I feel like a stranger?
I remember,
It’s been 365 nights since the last goodbye
It’s too long for me, that’s the reason why
Now please come down, get lower
I’m on the top of the tower and can’t go higher
I have something to say to you
I need to tell you, that… I wanna stop loving you
______________
February 5, 2010
By Mych Ryan
Here I am, standing in the brink of the day
Staring at the sun that has gone away
And a smile upon your face,
Make me never wanna leave this place
There you are, hardly I can see cause you just so far
I see your eyes blinking, are you a star?
But I remember you said you’re a moon
So I should have seen you soon
And here we are now,
You come to me somehow
You are getting closer and closer,
But why I feel like a stranger?
I remember,
It’s been 365 nights since the last goodbye
It’s too long for me, that’s the reason why
Now please come down, get lower
I’m on the top of the tower and can’t go higher
I have something to say to you
I need to tell you, that… I wanna stop loving you
______________
February 5, 2010
HIRUP
HIRUP
Oleh Ato Paskal
Hirup lir ibarat lengkah
Sing ati ati tur tarapti
nincak ulah ngan saukur lengkah
bari komo jeung dudupak rurumpak
bisi manggih beling nu pastina bakal nygagk
Hirup jeung kahirupan
lir ibarat lengkah jeung tujuan
lengkah merenah nu ku dilampah
tinangku barokah tujuan
nu ku urang baris kahontal
Panggoda dunya tong dijadikeun alasan
pikeun ngalengkah salah
lantaran bala tangtuna bakal karasa
Kamajuan dunya
kudu dibarengan ku motekar akal
jeung lengkah nu basajan
lengkah merenah kahirupa barokah
Oleh Ato Paskal
Hirup lir ibarat lengkah
Sing ati ati tur tarapti
nincak ulah ngan saukur lengkah
bari komo jeung dudupak rurumpak
bisi manggih beling nu pastina bakal nygagk
Hirup jeung kahirupan
lir ibarat lengkah jeung tujuan
lengkah merenah nu ku dilampah
tinangku barokah tujuan
nu ku urang baris kahontal
Panggoda dunya tong dijadikeun alasan
pikeun ngalengkah salah
lantaran bala tangtuna bakal karasa
Kamajuan dunya
kudu dibarengan ku motekar akal
jeung lengkah nu basajan
lengkah merenah kahirupa barokah
Rabu, 10 Desember 2014
biorama hujan
ku toreh pekatku
ada potret sejarah yang ingin ku bingkai
pada lembaran hari ini
tentangku tentang spektrum rinduku
pada biorama hujan sebelum senja
ada potret sejarah yang ingin ku bingkai
pada lembaran hari ini
tentangku tentang spektrum rinduku
pada biorama hujan sebelum senja
pembatas
mungkin dinding pembatas kita kini
bukan sekedar jarak atau masa
namun tentangnya waktu tlah menggoreskan
keyakinan, opini, dan kesimpulan berbeda
di setiap helai lusuh takdir kita
kisah yang terbentuk
keputusan yang di ambil
sesaat setelah kenyataan memisahkan
langkah kita di persimpangan
melukiskan objek yang berbeda
tentang komitmen, cinta dan kehidupan
jauh di pelupuk mata kita
entah biru, jingga atau keemasan
ku toleh kebelakang sesuatu terbentuk dan membekas
di alur masa yang kita lewati
jejak kaki kita
file-file yang beratur berarak
menapak tilas perjuangan kita di masa lalu
saat bersusah payah mengukir ketulusan
jatuh bangun di setiap alineanya
menawar harga kebenaran kata-kata
pada butir gerimis yang membekas
saat hakikat persahabatan tak lagi logis
dengan makna yang tabu untuk di pahami
hati kita berbeda
mendung pekat kelabu tak perlu di perbincangkan
hanya fahamilah ... hidup kita berbeda
namun tetaplah seperti kuning dan merah yang berbeda
tapi menjadi pelangi
ya tetap dalam perbedaannya
dan tetaplah menjadi hari ini meski esok berbeda
bukan sekedar jarak atau masa
namun tentangnya waktu tlah menggoreskan
keyakinan, opini, dan kesimpulan berbeda
di setiap helai lusuh takdir kita
kisah yang terbentuk
keputusan yang di ambil
sesaat setelah kenyataan memisahkan
langkah kita di persimpangan
melukiskan objek yang berbeda
tentang komitmen, cinta dan kehidupan
jauh di pelupuk mata kita
entah biru, jingga atau keemasan
ku toleh kebelakang sesuatu terbentuk dan membekas
di alur masa yang kita lewati
jejak kaki kita
file-file yang beratur berarak
menapak tilas perjuangan kita di masa lalu
saat bersusah payah mengukir ketulusan
jatuh bangun di setiap alineanya
menawar harga kebenaran kata-kata
pada butir gerimis yang membekas
saat hakikat persahabatan tak lagi logis
dengan makna yang tabu untuk di pahami
hati kita berbeda
mendung pekat kelabu tak perlu di perbincangkan
hanya fahamilah ... hidup kita berbeda
namun tetaplah seperti kuning dan merah yang berbeda
tapi menjadi pelangi
ya tetap dalam perbedaannya
dan tetaplah menjadi hari ini meski esok berbeda
biorama hujan
dentingnya seperti nyanyian yang mengeja kenangan
mengepak rindu yang berserakan
menghentikan waktu yang di jalani
hujan bukan masalah genangan
tapi takut saat terpeleset kenangan
mengepak rindu yang berserakan
menghentikan waktu yang di jalani
hujan bukan masalah genangan
tapi takut saat terpeleset kenangan
Rabu, 12 November 2014
Senja
Kali ini angkasa seperti terbelah jadi dua
semu kemerahan di ufuk timur
dan sebagian lagi masih biru tua
menyisakan jejak malam dan kawanan berbintang
sementara bulan masih menyala perak
bundar bagaikan mutiara
yang bertengger di tepi langit siap ditelan
mulut fajar
dan rindu masih mengapung di sana
semu kemerahan di ufuk timur
dan sebagian lagi masih biru tua
menyisakan jejak malam dan kawanan berbintang
sementara bulan masih menyala perak
bundar bagaikan mutiara
yang bertengger di tepi langit siap ditelan
mulut fajar
dan rindu masih mengapung di sana
jangan melarikan diri
Tolong mentari senja bertahanlah sebentar lagi
aku benar-benar ingin menjaga orang yang ku sayangi
mengubah masa lalu yang pahit menjadi kenangan
kalau memang kenangan berharga jangan di hapus
karena kalau sudah meninggal
orang itu hanya mampu hidup dalam kenangan orang lain saja
meninggalkan warna kesedihan dan menghilang dalam sekejap
jangan pergi dariku berjanjilah
seandainya aku bisa lebih kuat
kan kau yang bilang jangan melarikan diri
-detectif conan-
Hujan
adalah aku yang datang tanpa di undang
adalah aku ya pergi tanpa ada kata perpisahan
adalah aku yang jatuh berkali-kali namun selalu ingin kembali
adalah aku yang menyeka ujung kenangan
adalah aku menciptakan pelangi
adalah aku yang bertasbih bersama rinai ku yang indah ....
dan rintik ini belum juga berlalu
jogja
12112014 22:34
adalah aku ya pergi tanpa ada kata perpisahan
adalah aku yang jatuh berkali-kali namun selalu ingin kembali
adalah aku yang menyeka ujung kenangan
adalah aku menciptakan pelangi
adalah aku yang bertasbih bersama rinai ku yang indah ....
dan rintik ini belum juga berlalu
jogja
12112014 22:34
Jumat, 07 November 2014
do'a
Siapalah aku. Pemimpi yang hanya mampu mencintaimu lewat doa-doa.
karena bagiku tak ada kata yang lebih romantis selain do'a
karena bagiku tak ada kata yang lebih romantis selain do'a
Langganan:
Postingan (Atom)