Sabtu, 13 Desember 2014

SAJAK CHAIRUL ANWAR

     NISAN
                        untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
                        Oktober 1942


            PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
                                    Desember 1942

1943
            TAK SEPADAN

Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
                                                Februari 1943

            SIA-SIA *

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

*Versi Deru Campur Debu (Editor)

            SIA-SIA*

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah!  Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
                                    Februari 1943

*Versi KT (Editor)


            AJAKAN*

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
                                    Februari 1943

*Versi NA


            SENDIRI

Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
                                                Februari 1943

            PELARIAN

            I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga

Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

            II
 Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “

Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
                                                Februari 1943

   

 NISAN
                        untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
                        Oktober 1942


            PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
                                    Desember 1942

1943
            TAK SEPADAN

Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
                                                Februari 1943

            SIA-SIA *

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

*Versi Deru Campur Debu (Editor)

            SIA-SIA*

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah!  Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
                                    Februari 1943

*Versi KT (Editor)


            AJAKAN*

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
                                    Februari 1943

*Versi NA


            SENDIRI

Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
                                                Februari 1943

            PELARIAN

            I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga

Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

            II
 Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “

Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
                                                Februari 1943

Tidak ada komentar:

Posting Komentar