Rabu, 17 Desember 2014

Sajak Dulu Kala

Sajak Dulu Kala


oleh : Bayu Adjie Nugroho
oleh sabda-sabda dan getaran Yang Mengaku Maha Kuasa
merasa mampu dan mengajukan diri sebagai Dzat Yang Maha Tunggal
bersama lentera dhawuh-dhawuh para murad
menembus hingga ke relung hati terdalam
membekas dan mengendap bertahun-tahun
rasa suka dan bahagia yang lama dibakar perih
melalui jalan itu, jalan para Murabbi mencapai Rabbinya
aku merangkak, kadang tengkurap, kadang pingsan, dan bosan
dengan lidah yang tetap berusaha istiqamah
menyebut Dia!
Yang Mengaku Tuhanku
bersama Dia!
Yang mengaku satu-satunya sahabatku
untuk Dia!
Yang mengaku hanya disisiNya jalan keluar berada
aku sudah pasrah, lemah dan tak berdaya
untuk sekedar kembali dan mengulang perjalanan
atau mencari Tuhan-Tuhan yang mau menaungiku
entah ini sudah diujung jalan, pertengahan, atau permulaan,
yang jelas biarkanlah, biarkanlah aku mati dalam keadaan tenang
kepada agama yang disebut-sebut dengan Islam
biarkanlah…
kumohon…

di warnet Jamiyyah Islamiyyah, 07/11/13/ 11:04 Kingdom of Saudi Arabia(KSA)

Sabtu, 13 Desember 2014

SAJAK CHAIRUL ANWAR

     NISAN
                        untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
                        Oktober 1942


            PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
                                    Desember 1942

1943
            TAK SEPADAN

Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
                                                Februari 1943

            SIA-SIA *

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

*Versi Deru Campur Debu (Editor)

            SIA-SIA*

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah!  Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
                                    Februari 1943

*Versi KT (Editor)


            AJAKAN*

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
                                    Februari 1943

*Versi NA


            SENDIRI

Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
                                                Februari 1943

            PELARIAN

            I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga

Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

            II
 Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “

Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
                                                Februari 1943

   

 NISAN
                        untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
                        Oktober 1942


            PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam
Mukul denture selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul denture selama
Hinga hancur remuk redam
Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
                                    Desember 1942

1943
            TAK SEPADAN

Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padani
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tingal rangka
                                                Februari 1943

            SIA-SIA *

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih :
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan : Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini ?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah !
Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

*Versi Deru Campur Debu (Editor)

            SIA-SIA*

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan depanku
Serta pandang yang memastikan :untukmu

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah!  Hatiku yang tak mau member
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
                                    Februari 1943

*Versi KT (Editor)


            AJAKAN*

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-riang
C[Biar hujan Datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
                                    Februari 1943

*Versi NA


            SENDIRI

Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Dalamketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu ?
Ah! Lemah lesu ia tersedu :Ibu ! Ibu!
                                                Februari 1943

            PELARIAN

            I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa disini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga

Hancur-lelah sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

            II
 Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“Mau apa?Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungguh sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja “

Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
                                                Februari 1943

THE LAST DATE WITH THE MOON

THE LAST DATE WITH THE MOON
By Mych Ryan


Here I am, standing in the brink of the day
Staring at the sun that has gone away
And a smile upon your face,
Make me never wanna leave this place

There you are, hardly I can see cause you just so far
I see your eyes blinking, are you a star?
But I remember you said you’re a moon
So I should have seen you soon

And here we are now,
You come to me somehow
You are getting closer and closer,
But why I feel like a stranger?

I remember,
It’s been 365 nights since the last goodbye
It’s too long for me, that’s the reason why

Now please come down, get lower
I’m on the top of the tower and can’t go higher
I have something to say to you
I need to tell you, that… I wanna stop loving you
______________
February 5, 2010

HIRUP

HIRUP
Oleh Ato Paskal

Hirup lir ibarat lengkah
Sing ati ati tur tarapti
nincak ulah ngan saukur lengkah
bari komo jeung dudupak rurumpak
bisi manggih beling nu pastina bakal nygagk

Hirup jeung kahirupan
lir ibarat lengkah jeung tujuan
lengkah merenah nu ku dilampah
tinangku barokah tujuan
nu ku urang baris kahontal

Panggoda dunya tong dijadikeun alasan
pikeun ngalengkah salah
lantaran bala tangtuna bakal karasa

Kamajuan dunya
kudu dibarengan ku motekar akal
jeung lengkah nu basajan
lengkah merenah kahirupa barokah

Jumat, 12 Desember 2014

Mawar Hitam

luka itu memang terlalu berat untukmu
terlalu keras untuk kau rasakan
tak seperti keinginan dan harapan
yang selalu kau impikan
kau inginkan, kau khayalkan
dan kau bayangkan dulu
mestinya kau sadari itu
bukan penyesalan yg ada di hati
saat kau yakinkan diri untuk pergi
coba hadapi semua ini sendiri
dan ternyata keyakinan
tak cukup mampu untuk melawan
kau pun tak mampu bertahan
kini kau mawar penghias malam
 kau mawar hitam
harummu kepedihan
kau arungi waktu
di setiap belukar
tapi tetap saja hitam
meski air mata darah kau curahkan
berat hati rindukan jalan terbaik
untuk tetap berdiri
penyesalan memang selalu menakutkan
tapi itu kenyataan
 jangan menangis
meski kau sesali
singkirkan semua
bila tak kau inginkan

NOT WITH ME

I'm waking up from my summer dreams again
try to thinking if you're alright
then i'm shattered by the shadows of your eyes
knowing you're still here by my side

I can see you if you're not with me
i can say to my self if you're okay
i can feel you if you're not with me
i can reach you my self, you show me the way
Life was never be so easy as it seems
'till you come and bring your love inside
no matter space and distance make it look so far
still i know you're still here by my side

Yeah you're made me so alive,
you give the best for me
love and fantasy
yeah
and i never feel so lonely,
coz you're always here with me yeah
always here with me

I'm waking up from my summer dreams again
try to thinking if you're alright
then i'm shattered by the shadows of your eyes
knowing you're still here by my side

Anugrah terindah yang pernah ku miliki

Melihat tawamu 
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku 
Warna - warna indahmu
Menatap langkahmu 
Meratapi kisah hidupmu
 Terlihat jelas bahwa hatimu 
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan s'lalu 
Redakan ambisiku 
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau disisiku 
Kembali dunia ceria 
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki  
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
 Hangat peluk janjimu
Anugrah terindah yang pernah ku miliki