Minggu, 12 Oktober 2014

PISAU TAJAM

Pisau tajam itu bernama penantian
seperti biasa selepas senja ku tunggu seikat angin
membawa senyummu dan meninggalkannya di jendela
membelai gaun-gaun jenuh yang telah mengarat
oleh jarum-jarum penantian
ku lewati lorong-lorong mimpimu yang pengap dan gelisah
tanpa ku temukan pucat dan meneteskan keringat
pada awan mana ku temukan lagi senyummu
yang pernah menggerimis
yang belum mampu kuselesaikan dalam lukisanku
menghitung detik-detik matahari
kemudian menjumlahkan dengan aksioma-aksioma
adalah ritual yang ku lakukan untuk menunggu malam
yang melalui tangan rembulan
melukis partitur tangismu pada bebatuan bernama
RINDU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar